justwrite

justwrite
Satu karakter mewakili satu pikiran, satu kata mewakili satu perasaan, dan satu kalimat mewakili satu hati. - Me.

Rabu, 04 September 2013

Malam Terakhir Kita

Suara angin yang mengalun indah mendominasi. Sang fajar telah berganti tugas. Cahaya merah jingga itu tiba. “heei, lihat!” seru Neca. Neca merupakan nama panggilan dari seorang sahabat kecilnya. Namanya sebenarnya ialah Vanessa Livignie Ougles. Sedikit ribet, memang. Dan susah diingat. Oleh sebab itu, sahabatnya merombak namanya yang kebarat-baratan gak jelas itu dengan Neca. Dan parahnya lagi, seluruh masyarakat yang mengenal Vanessa jadi ikut-ikutan mengganti nama yang telah mengorbankan seekor nyawa itu menjadi Neca.
“Apa?” Alex mengernyit. Ini dia. Alex, sahabat kecil yang mengubah namanya tersebut. Alex dan Neca adalah sahabat karib. Persahabatan mereka dimulai ketika mereka berumur empat tahun. Saat itu, Alex berdiam diri duduk dibawah pohon cherry dengan berlinang air mata. Neca datang menghampirinya. Ia bertanya-tanya. Kenapa? Kenapa dia menangis? Anak laki-laki yang dilihatnya itu menangis sepanjang hari tanpa tahu penyebabnya. Dengan penasaran, Neca duduk disampingnya. Memperhatikan anak itu tanpa henti. Tanpa berkedip. Hingga akhirnya anak itupun berhenti menangis. Menceritakan penyebabnya, memberitahukan namanya, dan mengubah nama Vanessa.
“Bulannya penuh.” Neca tersenyum. 
“haaa iya! Indah yaa.” Alex menatap Neca. Dengan kesal, Neca mengarahkan kepala Alex keatas. “Itu tuh!”
“Eeeh iyaiya. Ampun mbak, ampun.” Ia meringis. Kejam. Neca tertawa. Mereka menatap bulan berjam-jam lamanya. Tanpa kata, tanpa suara. Menikmati keindahnya.
“Neca.” Alex membuka pembicaraan. Neca menatapnya tersenyum.
“Aku kayaknya jadi ngelanjut ke Jepang”.
Senyum Neca perlahan memudar. Pandangannya berubah arah. “ooh gitu. Sukses ya disana.” Jawabnya dengan berat. Hatinya tak terima. Siapa lagi yang akan menemani hari-harinya? Siapa lagi yang akan menjadi pelipur laranya? Ia tak kan bertemu dengan alex lagi. Bermain besamanya, bercanda, memandangi purnama. Ia akan kehilangan sahabat.
“Aku duluan ya yang kesana, ntar kamu nyusul. Alex San mau nyiapin karpet merah dulu buat bos Neca.” hiburnya.
Neca tersenyum. “apaan sih.”
“Besok aku berangkat caa”. Neca terdiam. Mendadak sekali? Jadi ini pertemuan terakhir? Jadi bagaimana denganku? Jadi, jadi. Ahhh!! Puluhan pertanyaaan memenuhi kepala neca. Ia hanya diam. Terdiam. Tak tau mau berkata apa. Sedih. Bingung. Kecewa.
“Caa?” Alex menganyunkan tangannya tepat di depan muka neca.
“Eeh iya. Ehmm, kamu hati-hati ya disana. Jangan suka nangis dibawah pohon. Sukses!” Mengacungkan kedua jempolnya. Ia tersenyum lebar. Mencoba sebiasa mungkin.
“Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu, ca.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar