Seminggu setelah semuanya
berlalu. Tiada lagi kata, tiada lagi cerita. Kamu seolah-olah menghilang. Tanpa
tanya, tanpa kata, kamu meninggalkan semua. Sakit.
Hai kamu, ya kamu. Tidakkah kamu
ingat lagi akan semuanya? semua tentang kita. Setia. Sukaduka. Selamanya. Aku
menarik nafas panjang. Hanya sebuah angan kosong. Angin yang menyentuh lembut,
cahaya bulan berkilauan, kesunyian yang begitu menghangatkan membawaku kepada
dunia fantasiku. Dunia dimana aku menganggumi suatu sosok. Sosok yang
kurindukan yang bahkan belum tentu membalaskan hal yang sama juga kepadaku.
Sosok itu menghantui pikiranku. senyuman, celotehan, bahkan amarah. semua
mengingatkan. Kumpulan kata yang ia rangkai begitu manis. Suara khas yang ia
lantunkan penuh sentuhan kasih. Aroma semerbak mempesona hati. Hatiku meringis.
Mengapa? Apakah kasihmu kepadaku telah hilang bak debu terbawa angin, telah
lenyap bak dipanas api atau telah beralih menjadi benci? aku tak mengerti. Kamu
begitu tega.
Serangkaian getaran dari sakuku membuyarkan lamunanku. Sebuah pesan singkat, ternyata. Mencoba mereka-reka. Hatiku bergejolak ketika membaca isi pesan tersebut. Kamu. Setelah sekian lama tanpa kata, setelah sekian lama menghantui pikiran, setelah sekian lama menjadi bayang-bayang. Kamu datang kembali. Tanpa penyesalan. Tanpa maaf. Berlagak seolah-olah tak terjadi apa-apa. Miris. Hatiku bergetar. Pikiranku beradu. Butiran-butiran mata air itupun mulai berjatuhan. Jahat. Sekarang apa lagi? Datang dan pergi sesuka hatimu.
Berjam-jam lamanya aku menatap
layar ponselku. Duduk. Diam. Terpaku. Permainan apalagi yang akan kamu buat?
Jangan menghampiriku hanya untuk menggoreskan luka lagi. Aku mohon. Aku lelah
dengan segala permainanmu. Aku sudah cukup tersiksa dengan semua perlakuanmu
terhadapku. Aku bukanlah boneka yang siap kamu bawa dalam setiap sandiwara.
Sudah tamat. Maafkan aku. Masih terasa sulit bagiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar