Hari ini rasanya berbeda, entah mengapa. Aku berjalan
dari sudut jalan. Menapaki setiap langkah yang ku punya dengan hati keluh.
Mentari diatas sana seolah menghukumku dengan pancarannya. Panas. Menyengat.
Inilah dia. Segala aktivitasku akan dimulai dari sini. Aku memandang sekeliling.
Tanpa ku sadari, pandanganku terhenti pada satu titik. Senyumku merekah
seketika. Segala kekesalanku seolah terbayar.
Aku terlarut. Terhanyut. Anganku melayang-layang luas bak goresan kapas
putih diatas sana. Hai kamu. Ya, kamu. Kamu adalah sosok berkharisma yang telah
merenggut perhatianku tanpa sisa. Aku mungkin tak tau banyak hal tentang kamu.
Dan, akupun tak tau bagaimana kamu yang sesungguhnya. Tapi aku yakin hati ini
tak mungkin berkata salah. Ini mungkin kedengaran gila. Tapi, ya aku
mengagumimu. Meski tanpa perkenalan yang berarti. Meski tanpa perbincangan
hangat terjalin diantara kita. Diri ini mungkin tak pernah kamu tau. Dan, rasa
ini mungkin hanya aku yang tau. Tak apa. Aku rela memendam segalanya. Tidak.
Ini bukan berarti aku setengah hati, hanya saja aku tak ingin kamu terganggu
dengan kehadiran rasa ini. Aku tak ingin menjadi sosok yang tak kau ingini
kehadirannya. Aku tak ingin kamu menuai malu. Oh ya, kamu tau? Aku selalu tak
berdaya ketika melihat simpul menawan itu dibibirmu. Senyummu bak candu di
setiap malamku. Andai kamu tau, tiada malam yang ku habiskan tanpa
memikirkanmu. Mencari tau tentangmu. Aku tak pernah mampu untuk berbincang
denganmu. Lidahku keluh seketika diperhadapkan denganmu. Aku gugup. Entahlah, aku
tak tau sebabnya. Dari kejauhan ku lihat seseorang datang kearahmu. Bercanda
tawa denganmu. Menyentuh rambutmu. Berada sedekat itu denganmu. Ah, andai aku
adalah dia. aku cemburu. Siapa dia? Hatiku bertanya-tanya. Aku mengamati wanita
itu lekat-lekat, mencoba membandingkan dirinya dengan diriku. Tak dapat ku
pungkiri, wanita yang berada disampingmu itu jauh lebih baik. Menawan, modis,
dan sepertinya dari golongan keluarga yang sederajat dengan kamu. Apa dia
kekasihmu? Hatiku hancur melihat kebersamaan itu. Pedih. Aku mulai jatuh diri.
Sudahlah, orang seperti aku ini mungkin hanya bisa berharap. Tidak lebih.
Bersama pria seperti kamu hanya ada di negeri dongeng. Aku harusnya tau. Tau
siapa aku. Butiran-butiran mata air mulai berjatuhan di pipiku. Aku tak kuasa
membendung rasa kecewa akan diriku sendiri. Rasa ini terlalu dalam. Dan, aku
tak tau mengapa bisa seperti ini. Perasaan ini lahir tanpa alasan. Aku bingung.
Kesal. Kecewa. Hatiku bergejolak. Aku menyukai seseorang yang bahkan tak tau
kehadiranku. Aku mengharapkan pengertian dari seseorang yang bahkan tak tau
siapa aku. Oh Tuhan, salahkah aku memendam segalanya?
justwrite
Satu karakter mewakili satu pikiran, satu kata mewakili satu perasaan, dan satu kalimat mewakili satu hati. - Me.
Selasa, 12 November 2013
Jumat, 25 Oktober 2013
Request - Tentangmu Teman Baruku
Medan. Tak ada
pilihan lain. Kota ini satu-satunya wadah yang akan membawa kehidupannya
menjadi lebih baik. Ribuan kilometer ia tempuh demi suatu ilmu yang bahkan
belum tau akan membawanya kemana. Tak ada kata menyerah, tak ada kata pasrah.
Yang ada hanya bersiap dan bertahan. Inilah hidup yang sebenarnya. Menghadapi
segala sesuatunya sendirian. Tanpa pembimbing. Tanpa orangtua. Pria berkulit
eksotis nan rupawan itu bukanlah pria yang lemah, ya aku yakin. Lakunya mungkin
saja demikian, namun tidak dengan hatinya. Kuat. Bak baja yang siap untuk
perang. Keke. Demikian orang-orang menyapanya. Senyumnya seketika merekah di
kerumunan itu. Bercanda tawa bersama. Tak ada yang tak mengenalnya di ruangan
ini. Tentu saja. Suaranya yang khas, Sapaan hangat dan celotehan jenaka yang ia
ciptakan bak makanan sehari-hari bagi penghuni ruangan ini. Rupanya yang sayu
selalu saja mengundang kegembiraan.
Masih tertanam di
benakku segala hal tentang dia, teman baruku itu. Segala tentang mimpi dan
pencapaian yang telah ia raih. Aku salut. Obsesinya terhadap angka sebelas
telah membawanya pada suatu kemenangan. Ia adalah olahragawan muda yang
berhasil memboyong medali perak di pertandingan basket kanca internasional ___sungguh
luar biasa. Dengan bangga, ia memamerkan kenangan itu padaku. Disana terlihat
jelas raut rasa bangga. Goresan hijau yang tertera pada balutan putih tanpa
lengan di tubuhnya menjadi saksi bisu atas segalanya. Aku yakin, tidaklah mudah
untuk meraih kemenangan tersebut. Butuh perjuangan. Perjuangannya yang keras,
tentunya. Kedisiplinan. Kekompakan. Satu nilai plus semakin terlihat darinya.
Orang-orang mungkin saja menganggapnya remeh. Menertawakan. Mereka hanya belum
terlalu mengenal lebih dalam. Berasumsi seenaknya. Perkenalan singkat mungkin
tak membuat kita tau banyak hal. Tapi ketahuilah, apa yang terlihat dari luar
belum tentu mampu mendeskripsikan apa dan bagaimana seseorang itu sebenarnya.
Selasa, 22 Oktober 2013
Jika Esok Tak Pernah Datang
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.
Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya, Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.
Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu.
Jadi, bila kau sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang?
Karena bila esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesali hari.
Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.
Jadi, dekap erat orang-orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka.
Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”
Jika - Puisi
Jika kau mampu menegakkan kepala, ketika orang-orang di sekitarmu kehilangan segalanya dan saling menyalahkan.
Jika kau mampu meyakini dirimu, ketika semua orang meragukanmu. Namun kau tetap mampu memahami keraguan mereka.
Jika kau bisa menunggu dan tidak lelah menunggu. Atau dibohongi, namun tidak berbohong. Dibenci, namun tidak membenci.
Namun semua itu masih tidak terlalu baik, atau tidak terlalu bijaksana.
Jika kau dapat bermimpi dan tidak ada yang memaksamu untuk bermimpi.
Jika kau dapat berpikir dan tidak ada yang memaksamu untuk berpikir.
Jika kau dapat menerima kemenangan dan bencana dan menerima keduanya dengan cara yang sama.
Jika kau mampu mendengar kebenaran yang terucap oleh bibirmu. Meski terhalang kemuslihatan yang menjerat si dungu.
Atau menyaksikan segala hal yang kita bangun, hancur. Namun memungutnya dan membangunnya kembali dengan alat usang.
Jika kau dapat memupuk kemenangan dan terus membumbung tinggi.
Lalu kalah, dan memulai segalanya dari awal dan tidak pernah mengungkit-ungkit kekalahan.
Jika kita dapat menguatkan hati, syaraf, dan otot daging untuk membuatmu bertahan atas kekalahan.
Dan tetap bertahan, meski kau tak punya satu pun lagi kecuali kehendak yang mengatakan `Bertahanlah!`
Jika kau dapat berbicara di depan orang banyak dan tetap menjaga martabat. Atau berjalan dengan Raja tanpa lupa sebagai orang biasa.
Jika tak seorang pun musuh dan teman bisa melukaimu.
Jika semua orang membantumu, namun tidak terlalu banyak.
Jika kau bisa mengisi saat yang menyakitkan dengan nilai enam puluh detik penentuan lari jarak jauh.
Milikmu adalah Bumi dan semua yang terkandung di dalamnya
Dan, lebih dari itu, kau kan menjadi seorang Manusia, anakku! (-Rudyard)
Pemenang Kehidupan - Cerita Motivasi
Suatu hari, dua orang sahabat menghampiri sebuah
lapak untuk membeli buku dan majalah. Penjualnya ternyata melayani dengan
buruk. Mukanya pun cemberut. Orang pertama jelas jengkel menerima layanan
seperti itu. Yang mengherankan, orang kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan
kepada penjual itu. Lantas orang pertama itu bertanya kepada sahabatnya, “Hei.
Kenapa kamu bersikap sopan kepada penjual yang menyebalkan itu?”
Sahabatnya menjawab, “Lho, kenapa aku harus mengizinkan dia
menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah sang penentu atas kehidupan kita,
bukan orang lain.”
“Tapi dia melayani kita dengan buruk sekali,” bantah orang
pertama. Ia masih merasa jengkel.
“Ya, itu masalah dia. Dia mau bad mood, tidak sopan, melayani
dengan buruk, dan lainnya, toh itu enggak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita
sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan mempengaruhi hidup
kita. Padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri sendiri.”
Sahabat, Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang
lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya
dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak
sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah
tiba-tiba jadi sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang itu.
Coba renungkan. Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh
orang lain? Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan
dengan baik oleh orang lain dulu? Jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk
orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak! Pilih untuk tetap
berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik.
“Pemenang kehidupan” adalah orang yang tetap sejuk di
tempat yang panas, yang tetap manis di tempat yang sangat pahit, yang tetap
merasa kecil meskipun telah menjadi besar, serta tetap tenang di tengah badai
yang paling hebat.
Kisah Kasih Sang Jones
Nama saya Jecky Prasetyo. Sebut aja iki. Nama gaul gitoooh. Umur saya 19
tahun. belum tua-tua amat lah,katanya. Tapi buat seorang playboy gagal plus
raja php yang sama sekali belum pernah pacaran___ rasanya saya
tua. Tua bukan berarti sudah bepengalaman. Tua disini ya seperti apa yang kamu
pikirkanlah. Well, ini faktanya. Saya jones. Entah mengapa dan karena kutukan
apa, saya juga bingung. Saya udah nyoba untuk jadi joba sejati, tapi hasilnya
nihil. Saya masih saja dihantui oleh bayang-bayang itu. Padahal tampang saya
gak jelek-jelek amat. Setipe kayak Afganlah. Kacamataan, sawo mateng, dan
update banget. Tapi ya beginilah.
Kisah percintaan saya.
Kisah cinta pertama saya itu semasa SMA. Eh, maksud saya kisah percintaan
gagal saya yg pertama. Begini ceritanya.
Nama wanita beruntung itu Sesilya Anetha. Manis. Tinggi. Rambutnya panjang
terurai. Sayangnya, doi cuek abis. Tapi kecuekannya itu bikin saya makin
bersemangat dan penasaran sama doi. Saya berusaha ngedeketin doi. Berusaha
keras. Mulai dari manggil-manggil dia sambil nyengir tampan setiap doi lewat
depan kelas, bolak-balik lewat depan kelas doi setiap jam istirahat, mandangi
doi di kantin, titip salam, sampe nyariin akun sosial medianya. Facebook,
twitter, friendster, vain, myspace, semuanya deh. Saya bela-belain buat akun
baru. Hingga duit jajan habis buat ngewarnet. Eh ternyata, doi gak anak update.
Kata temennya, doi gak suka yang begitu-begituan. Sia-sia. Tapi saya gak
menyerah. Saya terus ngedeketin doi, cari tau apapun tentang doi mulai dari
ujung rambut sampe ujung kaki. Hingga akhirnya, satu angkatan ngeledekin saya.
saya dikatain cowok psikopat sama doi. Jleb. Saya sakit hati. Pasrah. Doi tega.
Mungkin doi bukanlah wanita yang tepat buat saya. Atau. Saya yang kurang tepat
buat doi. Sudahlah. Takdir berkata lain. Saya galau. Galau segalau-galaunya.
Tapi saya harus tegar. Ya. Kayak lagunya rossa.
Tiga bulan kemudian. Saya bangkit kembali. Segalanya telah pulih. Nama
Sesilya benar-benar udah terhapus dari dinding kamar dan hati saya. Bye.
Setahun lima bulan setelah semuanya berlalu.
Saya jatuh cinta lagi. Kali ini sama adik kelas. Imut, lucu, menggemaskan.
Namanya Ethana Putri. Mencoba belajar dari pengalaman sebelumnya,
perlahan-lahan saya deketin. Sinyal-sinyal lampu hijau mulai terlihat. Kita sms-an
setiap hari, senyum-senyuman, sapa-sapaan. Manis banget. Saya mulai percaya
diri. Eta pasti ada rasa sama saya.
Di lain sisi, Maria temen sekelas saya juga lagi deket sama saya. Orangnya
asik sih, enak diajak ngobrol, cantik lagi. Saya mulai laku. Kepercayaan diri
saya diambang batas. Jadi gini rasanya jadi pria idaman para wanita.
Diidolakan. Niat buruk saya mulai muncul. Saya pengen pacarin dua-duanya.
Tanggal baik telah dipilh. 10 November 2012. Hati saya menaruh harapan.
Semoga prediket playboy membahagiakan. Tepat pukul sembilan malam saya nembak
mereka via message text. Dan akhirnya. Miris. Hati saya meringis. Menangis
perih. Ternyata mereka sudah ada yang punya. Saya kepedean. Nyesel punya niat
buruk sebelumnya. Alih-alih mau dapat dua, satu pun tak sampai. Tragis. Saya
galau kembali. Kali ini untuk waktu yang bener-bener lama. Entah sampai kapan
akan pulih kembali, yang jelas saya trauma wanita dan segala hal tentang
mereka. Menyedihkan.
THE END
Kamis, 05 September 2013
Puisi waktu SMP :'D
Surga
Setiap orang
menganggapmu indah
Setiap orang
menganggapmu penuh dengan sukacita
Tanda Tanya besar
membayangiku
Dimanakah
kau berada?
Mengapa mereka
beranggapan demikian hebatnya?
Segores pun
kau tak terdeskripsikan
Hati ini mungkin
menyakininya
Tetapi
logika ku berkata sebaliknya
Surga..
Mungkinkah
kau ada?
Sepi
Hampa bak
tiada cela
Segala hal
terasa berubah
Tiada lagi
teman menghiasi hari
Tiada lagi
temen di sisi
Hidupku
terasa sunyi senyap
Warna-warni
berubah menjadi kelabu
Ku
langkahkan kaki mengawali hari
Tiada
seorang pun kini
Temanku
telah pergi
Rasa Cinta
Cerahnya
sang mentari
Terpancar
dari wajahmu
Sejuknya
angin pagi
Tersirat
dari hatimu
Eloknya
rupamu memikat hatiku
Kau membuat
ku tersipu malu
Layaknya
rerumputan riang di perbukitan
Serta
lekukan gelombang di tengah derasnya ombak
Rasa ini ku
anggap cinta
Begitu
membara di dalam sukma jiwa
Menenangkan
juga menganyutkan raga
Kenanglah Kasih
Angin
berhembus lembut. Udara mengambang jauh di atas sana menambah getaran indera
peraba yang mengalami penolakan alam ini. Ku pandangi sekitar. Butiran-butiran
embun mulai bertetesan pada kelopak penuh warna ceria itu. Sejuk sekali.
Ku langkahkan kakiku perlahan mengitari bundaran hijau. Mencoba menyatu
dengannya. Ya. Tanpa ku sadari, bibir ini mulai membentuk suatu simpul yang
menambah keindahan raut wajahku. Haahh. Di sini. Di tempat ini. Tersimpan
banyak kenangan manis. Kenangan bersama orang terkasih yang bahkan aku tak tau
keberadaannya. Sedang apa? Dimana? Apa kabarnya dia. Aku bertanya-tanya.
Terkadang mungkin takdir berkata lain. Atau. Keadaan memaksamu untuk mengatakan
yang lain. Kamu boleh saja membenciku atau bahkan enggan bertatap denganku.
Tapi satu hal, Kasih. Aku dan kamu pernah menjadi kita. Aku dan kamu pernah
menjadi satu kesatuan yang padu. Ingat? Saling mengenal dan mengasihi satu sama
lain. Walau segalanya telah berakhir, walau pintu-pintu telah terkunci rapat,
dan walau kemungkinan-kemungkinan itu hanyalah omong kosong belaka. Kenanglah.
Kenang walau hanya sesaat di bagian-bagian kecil bunga tidurmu. Butiran mata
air berjatuhan. Menderas. Semoga yang Maha Kuasa selalu menyertai langkahmu,
ya. Aku selalu mendoakan kamu, membawa namamu dalam sebaris harapanku
kepada-Nya. Berbahagialah. Bahagiakan dirimu bersama seseorang yang mungkin
dapat mengerti kamu seutuhnya. Aku yakin segalanya telah disediakan-Nya bagimu.
Karena. Kamu baik. Dan. Berhak mendapatkan yang terbaik.
Rabu, 04 September 2013
Malam Terakhir Kita
Suara angin yang mengalun indah mendominasi. Sang fajar
telah berganti tugas. Cahaya merah jingga itu tiba. “heei, lihat!” seru Neca. Neca merupakan nama panggilan dari seorang sahabat kecilnya. Namanya sebenarnya
ialah Vanessa Livignie Ougles. Sedikit ribet, memang. Dan susah diingat. Oleh
sebab itu, sahabatnya merombak namanya yang kebarat-baratan gak jelas itu
dengan Neca. Dan parahnya lagi, seluruh masyarakat yang mengenal Vanessa jadi
ikut-ikutan mengganti nama yang telah mengorbankan seekor nyawa itu menjadi
Neca.
“Apa?” Alex mengernyit. Ini dia. Alex, sahabat kecil yang mengubah namanya tersebut. Alex dan Neca adalah sahabat karib. Persahabatan mereka dimulai ketika mereka berumur empat tahun. Saat itu, Alex berdiam diri duduk dibawah pohon cherry dengan berlinang air mata. Neca datang menghampirinya. Ia bertanya-tanya. Kenapa? Kenapa dia menangis? Anak laki-laki yang dilihatnya itu menangis sepanjang hari tanpa tahu penyebabnya. Dengan penasaran, Neca duduk disampingnya. Memperhatikan anak itu tanpa henti. Tanpa berkedip. Hingga akhirnya anak itupun berhenti menangis. Menceritakan penyebabnya, memberitahukan namanya, dan mengubah nama Vanessa.
“Bulannya penuh.” Neca tersenyum.
“haaa iya! Indah yaa.” Alex menatap Neca. Dengan kesal, Neca mengarahkan kepala Alex keatas. “Itu tuh!”
“Eeeh iyaiya. Ampun mbak, ampun.” Ia meringis. Kejam. Neca tertawa. Mereka menatap bulan berjam-jam lamanya. Tanpa kata, tanpa suara. Menikmati keindahnya.
“Neca.” Alex membuka pembicaraan. Neca menatapnya tersenyum.
“Aku kayaknya jadi ngelanjut ke Jepang”.
Senyum Neca perlahan memudar. Pandangannya berubah arah. “ooh gitu. Sukses ya disana.” Jawabnya dengan berat. Hatinya tak terima. Siapa lagi yang akan menemani hari-harinya? Siapa lagi yang akan menjadi pelipur laranya? Ia tak kan bertemu dengan alex lagi. Bermain besamanya, bercanda, memandangi purnama. Ia akan kehilangan sahabat.
“Aku duluan ya yang kesana, ntar kamu nyusul. Alex San mau nyiapin karpet merah dulu buat bos Neca.” hiburnya.
Neca tersenyum. “apaan sih.”
“Apa?” Alex mengernyit. Ini dia. Alex, sahabat kecil yang mengubah namanya tersebut. Alex dan Neca adalah sahabat karib. Persahabatan mereka dimulai ketika mereka berumur empat tahun. Saat itu, Alex berdiam diri duduk dibawah pohon cherry dengan berlinang air mata. Neca datang menghampirinya. Ia bertanya-tanya. Kenapa? Kenapa dia menangis? Anak laki-laki yang dilihatnya itu menangis sepanjang hari tanpa tahu penyebabnya. Dengan penasaran, Neca duduk disampingnya. Memperhatikan anak itu tanpa henti. Tanpa berkedip. Hingga akhirnya anak itupun berhenti menangis. Menceritakan penyebabnya, memberitahukan namanya, dan mengubah nama Vanessa.
“Bulannya penuh.” Neca tersenyum.
“haaa iya! Indah yaa.” Alex menatap Neca. Dengan kesal, Neca mengarahkan kepala Alex keatas. “Itu tuh!”
“Eeeh iyaiya. Ampun mbak, ampun.” Ia meringis. Kejam. Neca tertawa. Mereka menatap bulan berjam-jam lamanya. Tanpa kata, tanpa suara. Menikmati keindahnya.
“Neca.” Alex membuka pembicaraan. Neca menatapnya tersenyum.
“Aku kayaknya jadi ngelanjut ke Jepang”.
Senyum Neca perlahan memudar. Pandangannya berubah arah. “ooh gitu. Sukses ya disana.” Jawabnya dengan berat. Hatinya tak terima. Siapa lagi yang akan menemani hari-harinya? Siapa lagi yang akan menjadi pelipur laranya? Ia tak kan bertemu dengan alex lagi. Bermain besamanya, bercanda, memandangi purnama. Ia akan kehilangan sahabat.
“Aku duluan ya yang kesana, ntar kamu nyusul. Alex San mau nyiapin karpet merah dulu buat bos Neca.” hiburnya.
Neca tersenyum. “apaan sih.”
“Besok aku berangkat
caa”. Neca terdiam. Mendadak sekali? Jadi ini pertemuan terakhir? Jadi bagaimana denganku? Jadi, jadi. Ahhh!!
Puluhan pertanyaaan memenuhi kepala neca. Ia hanya diam. Terdiam. Tak tau mau berkata apa. Sedih. Bingung. Kecewa.
“Caa?” Alex menganyunkan tangannya tepat di depan muka neca.
“Eeh iya. Ehmm, kamu hati-hati ya disana. Jangan suka nangis dibawah pohon. Sukses!” Mengacungkan kedua jempolnya. Ia tersenyum lebar. Mencoba sebiasa mungkin.
“Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu, ca.”
“Caa?” Alex menganyunkan tangannya tepat di depan muka neca.
“Eeh iya. Ehmm, kamu hati-hati ya disana. Jangan suka nangis dibawah pohon. Sukses!” Mengacungkan kedua jempolnya. Ia tersenyum lebar. Mencoba sebiasa mungkin.
“Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu, ca.”
Inikah Keadilan?
Helaan demi helaan terbuang
sia-sia
Kekelaman seolah semakin
mendekat dan merasuk
Minggu, 01 September 2013
Sebaris Kerinduanku :')
kata tak mampu mendeskripsikan.
Tindakan tak mampu menjelaskan. Segala hal yang ku lakukan serasa tak berarti.
Hambar. Duduk dan hanyut dalam duniaku. Ku lihat pancaran merah jingga
melingkar diatas sana ___sungguh mempesona. Damai sekali
rasanya. Kilauan titik-titik manis itu seolah menunjukan kebahagiaannya disana.
Hamparan gelap membentang luas. Tanpa sadar, sebuah senyuman membentang
dibibirku. Menatap jauh keatas. Apa papa ada disana? Menatapku dengan sepasang
mata coklatnya sembari tersenyum, mungkin. Aku rindu, Pa. Aku rindu papa
mengganggu waktu tidurku. Aku rindu terlelap dibawah kaki-kaki mungilmu. Aku
rindu mengitari kota bersamamu, Pa. Papa ingat? Setiap malam sebelum terlelap,
Aku selalu menunggu kedatanganmu beserta kantongan-kantongan kecil yang papa
bawakan untukku. Papa tertawa kala itu. Mengusap lembut rambutku. Kita
menikmati isi kantongan itu bersama. Hanya berdua hingga akhirnya si sulung
terbangun dan terpaksa kita harus berbagi. Lucu rasanya mengingat itu.
Semua memori terputar
ulang __dengan jelas. Aku kesepian, Pa. Hari-hariku sepi. Hampa.
Segala sesuatunya terasa berbeda sekarang. Rumit. Butiran-butiran itupun tak
mampu lagi ku tahan. Meluap. Maaf, Pa. Maaf karena tak ada di detik-detik
terakhirmu. Maaf mengecewakan. Maaf. Maaf buat segalanya. Bendungan itu
menderas. Sayup-sayup ku panggil namanya dengan linangan, yang bahkan aku tak
tau mengapa mengalir begitu saja. Aku harap Pencipta menempatkanmu di negeri
putih nan indah itu, Pa. Mengajakmu berkeliling dan menikmati keindahannya.
Tersenyumlah, Pa. Tersenyumlah karena kini rasa sakit yang sekian lama kau rasa
telah berubah menjadi sukacita. Tersenyumlah melihat anakmu dari atas sana
dengan penuh rasa bangga. Jangan cemaskan aku. Jangan cemaskan butiran-butiran
yang berjatuhan ini. Tak apa. Aku tersenyum. Engkau pria hebat. Pria nomor satu
dalam hidupku. Papa. Kelak saat aku punya keturunan nanti, papa akan dikenang
manis. Sangat manis. Aku mencintaimu, Pa. Selalu mencintaimu.
Cukup Sudah
Seminggu setelah semuanya
berlalu. Tiada lagi kata, tiada lagi cerita. Kamu seolah-olah menghilang. Tanpa
tanya, tanpa kata, kamu meninggalkan semua. Sakit.
Hai kamu, ya kamu. Tidakkah kamu
ingat lagi akan semuanya? semua tentang kita. Setia. Sukaduka. Selamanya. Aku
menarik nafas panjang. Hanya sebuah angan kosong. Angin yang menyentuh lembut,
cahaya bulan berkilauan, kesunyian yang begitu menghangatkan membawaku kepada
dunia fantasiku. Dunia dimana aku menganggumi suatu sosok. Sosok yang
kurindukan yang bahkan belum tentu membalaskan hal yang sama juga kepadaku.
Sosok itu menghantui pikiranku. senyuman, celotehan, bahkan amarah. semua
mengingatkan. Kumpulan kata yang ia rangkai begitu manis. Suara khas yang ia
lantunkan penuh sentuhan kasih. Aroma semerbak mempesona hati. Hatiku meringis.
Mengapa? Apakah kasihmu kepadaku telah hilang bak debu terbawa angin, telah
lenyap bak dipanas api atau telah beralih menjadi benci? aku tak mengerti. Kamu
begitu tega.
Serangkaian getaran dari sakuku membuyarkan lamunanku. Sebuah pesan singkat, ternyata. Mencoba mereka-reka. Hatiku bergejolak ketika membaca isi pesan tersebut. Kamu. Setelah sekian lama tanpa kata, setelah sekian lama menghantui pikiran, setelah sekian lama menjadi bayang-bayang. Kamu datang kembali. Tanpa penyesalan. Tanpa maaf. Berlagak seolah-olah tak terjadi apa-apa. Miris. Hatiku bergetar. Pikiranku beradu. Butiran-butiran mata air itupun mulai berjatuhan. Jahat. Sekarang apa lagi? Datang dan pergi sesuka hatimu.
Berjam-jam lamanya aku menatap
layar ponselku. Duduk. Diam. Terpaku. Permainan apalagi yang akan kamu buat?
Jangan menghampiriku hanya untuk menggoreskan luka lagi. Aku mohon. Aku lelah
dengan segala permainanmu. Aku sudah cukup tersiksa dengan semua perlakuanmu
terhadapku. Aku bukanlah boneka yang siap kamu bawa dalam setiap sandiwara.
Sudah tamat. Maafkan aku. Masih terasa sulit bagiku.
Langganan:
Komentar (Atom)
.jpg)