justwrite

justwrite
Satu karakter mewakili satu pikiran, satu kata mewakili satu perasaan, dan satu kalimat mewakili satu hati. - Me.

Selasa, 12 November 2013

Rasa Ini

Hari ini rasanya berbeda, entah mengapa. Aku berjalan dari sudut jalan. Menapaki setiap langkah yang ku punya dengan hati keluh. Mentari diatas sana seolah menghukumku dengan pancarannya. Panas. Menyengat. Inilah dia. Segala aktivitasku akan dimulai dari sini. Aku memandang sekeliling. Tanpa ku sadari, pandanganku terhenti pada satu titik. Senyumku merekah seketika. Segala kekesalanku seolah terbayar.  Aku terlarut. Terhanyut. Anganku melayang-layang luas bak goresan kapas putih diatas sana. Hai kamu. Ya, kamu. Kamu adalah sosok berkharisma yang telah merenggut perhatianku tanpa sisa. Aku mungkin tak tau banyak hal tentang kamu. Dan, akupun tak tau bagaimana kamu yang sesungguhnya. Tapi aku yakin hati ini tak mungkin berkata salah. Ini mungkin kedengaran gila. Tapi, ya aku mengagumimu. Meski tanpa perkenalan yang berarti. Meski tanpa perbincangan hangat terjalin diantara kita. Diri ini mungkin tak pernah kamu tau. Dan, rasa ini mungkin hanya aku yang tau. Tak apa. Aku rela memendam segalanya. Tidak. Ini bukan berarti aku setengah hati, hanya saja aku tak ingin kamu terganggu dengan kehadiran rasa ini. Aku tak ingin menjadi sosok yang tak kau ingini kehadirannya. Aku tak ingin kamu menuai malu. Oh ya, kamu tau? Aku selalu tak berdaya ketika melihat simpul menawan itu dibibirmu. Senyummu bak candu di setiap malamku. Andai kamu tau, tiada malam yang ku habiskan tanpa memikirkanmu. Mencari tau tentangmu. Aku tak pernah mampu untuk berbincang denganmu. Lidahku keluh seketika diperhadapkan denganmu. Aku gugup. Entahlah, aku tak tau sebabnya. Dari kejauhan ku lihat seseorang datang kearahmu. Bercanda tawa denganmu. Menyentuh rambutmu. Berada sedekat itu denganmu. Ah, andai aku adalah dia. aku cemburu. Siapa dia? Hatiku bertanya-tanya. Aku mengamati wanita itu lekat-lekat, mencoba membandingkan dirinya dengan diriku. Tak dapat ku pungkiri, wanita yang berada disampingmu itu jauh lebih baik. Menawan, modis, dan sepertinya dari golongan keluarga yang sederajat dengan kamu. Apa dia kekasihmu? Hatiku hancur melihat kebersamaan itu. Pedih. Aku mulai jatuh diri. Sudahlah, orang seperti aku ini mungkin hanya bisa berharap. Tidak lebih. Bersama pria seperti kamu hanya ada di negeri dongeng. Aku harusnya tau. Tau siapa aku. Butiran-butiran mata air mulai berjatuhan di pipiku. Aku tak kuasa membendung rasa kecewa akan diriku sendiri. Rasa ini terlalu dalam. Dan, aku tak tau mengapa bisa seperti ini. Perasaan ini lahir tanpa alasan. Aku bingung. Kesal. Kecewa. Hatiku bergejolak. Aku menyukai seseorang yang bahkan tak tau kehadiranku. Aku mengharapkan pengertian dari seseorang yang bahkan tak tau siapa aku. Oh Tuhan, salahkah aku memendam segalanya?

Jumat, 25 Oktober 2013

Request - Tentangmu Teman Baruku

Medan. Tak ada pilihan lain. Kota ini satu-satunya wadah yang akan membawa kehidupannya menjadi lebih baik. Ribuan kilometer ia tempuh demi suatu ilmu yang bahkan belum tau akan membawanya kemana. Tak ada kata menyerah, tak ada kata pasrah. Yang ada hanya bersiap dan bertahan. Inilah hidup yang sebenarnya. Menghadapi segala sesuatunya sendirian. Tanpa pembimbing. Tanpa orangtua. Pria berkulit eksotis nan rupawan itu bukanlah pria yang lemah, ya aku yakin. Lakunya mungkin saja demikian, namun tidak dengan hatinya. Kuat. Bak baja yang siap untuk perang. Keke. Demikian orang-orang menyapanya. Senyumnya seketika merekah di kerumunan itu. Bercanda tawa bersama. Tak ada yang tak mengenalnya di ruangan ini. Tentu saja. Suaranya yang khas, Sapaan hangat dan celotehan jenaka yang ia ciptakan bak makanan sehari-hari bagi penghuni ruangan ini. Rupanya yang sayu selalu saja mengundang  kegembiraan.
Masih tertanam di benakku segala hal tentang dia, teman baruku itu. Segala tentang mimpi dan pencapaian yang telah ia raih. Aku salut. Obsesinya terhadap angka sebelas telah membawanya pada suatu kemenangan. Ia adalah olahragawan muda yang berhasil memboyong medali perak di pertandingan basket kanca internasional ___sungguh luar biasa. Dengan bangga, ia memamerkan kenangan itu padaku. Disana terlihat jelas raut rasa bangga. Goresan hijau yang tertera pada balutan putih tanpa lengan di tubuhnya menjadi saksi bisu atas segalanya. Aku yakin, tidaklah mudah untuk meraih kemenangan tersebut. Butuh perjuangan. Perjuangannya yang keras, tentunya. Kedisiplinan. Kekompakan. Satu nilai plus semakin terlihat darinya. Orang-orang mungkin saja menganggapnya remeh. Menertawakan. Mereka hanya belum terlalu mengenal lebih dalam. Berasumsi seenaknya. Perkenalan singkat mungkin tak membuat kita tau banyak hal. Tapi ketahuilah, apa yang terlihat dari luar belum tentu mampu mendeskripsikan apa dan bagaimana seseorang itu sebenarnya.

Selasa, 22 Oktober 2013

Jika Esok Tak Pernah Datang

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi. Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku. Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu. Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya, Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa. Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu. Jadi, bila kau sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang? Karena bila esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesali hari. Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka. Jadi, dekap erat orang-orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka. Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”

Jika - Puisi


Jika kau mampu menegakkan kepala, ketika orang-orang di sekitarmu kehilangan segalanya dan saling menyalahkan.
Jika kau mampu meyakini dirimu, ketika semua orang meragukanmu. Namun kau tetap mampu memahami keraguan mereka.
Jika kau bisa menunggu dan tidak lelah menunggu. Atau dibohongi, namun tidak berbohong. Dibenci, namun tidak membenci.
Namun semua itu masih tidak terlalu baik, atau tidak terlalu bijaksana.
Jika kau dapat bermimpi dan tidak ada yang memaksamu untuk bermimpi.
Jika kau dapat berpikir dan tidak ada yang memaksamu untuk berpikir.
Jika kau dapat menerima kemenangan dan bencana dan menerima keduanya dengan cara yang sama.
Jika kau mampu mendengar kebenaran yang terucap oleh bibirmu. Meski terhalang kemuslihatan yang menjerat si dungu.
Atau menyaksikan segala hal yang kita bangun, hancur. Namun memungutnya dan membangunnya kembali dengan alat usang.
Jika kau dapat memupuk kemenangan dan terus membumbung tinggi.
Lalu kalah, dan memulai segalanya dari awal dan tidak pernah mengungkit-ungkit kekalahan.
Jika kita dapat menguatkan hati, syaraf, dan otot daging untuk membuatmu bertahan atas kekalahan.
Dan tetap bertahan, meski kau tak punya satu pun lagi kecuali kehendak yang mengatakan `Bertahanlah!`
Jika kau dapat berbicara di depan orang banyak dan tetap menjaga martabat. Atau berjalan dengan Raja tanpa lupa sebagai orang biasa.
Jika tak seorang pun musuh dan teman bisa melukaimu.
Jika semua orang membantumu, namun tidak terlalu banyak.
Jika kau bisa mengisi saat yang menyakitkan dengan nilai enam puluh detik penentuan lari jarak jauh.
Milikmu adalah Bumi dan semua yang terkandung di dalamnya
Dan, lebih dari itu, kau kan menjadi seorang Manusia, anakku! (-Rudyard)

Pemenang Kehidupan - Cerita Motivasi

Suatu hari, dua orang sahabat menghampiri sebuah lapak untuk membeli buku dan majalah. Penjualnya ternyata melayani dengan buruk. Mukanya pun cemberut. Orang pertama jelas jengkel menerima layanan seperti itu. Yang mengherankan, orang kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual itu. Lantas orang pertama itu bertanya kepada sahabatnya, “Hei. Kenapa kamu bersikap sopan kepada penjual yang menyebalkan itu?”

Sahabatnya menjawab, “Lho, kenapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah sang penentu atas kehidupan kita, bukan orang lain.”

“Tapi dia melayani kita dengan buruk sekali,” bantah orang pertama. Ia masih merasa jengkel.

“Ya, itu masalah dia. Dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk, dan lainnya, toh itu enggak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan mempengaruhi hidup kita. Padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri sendiri.”

Sahabat, Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba-tiba jadi sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang itu.

Coba renungkan. Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang lain? Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu? Jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak! Pilih untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik.


“Pemenang kehidupan” adalah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas, yang tetap manis di tempat yang sangat pahit, yang tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, serta tetap tenang di tengah badai yang paling hebat.

Kisah Kasih Sang Jones

Nama saya Jecky Prasetyo. Sebut aja iki. Nama gaul gitoooh. Umur saya 19 tahun. belum tua-tua amat lah,katanya. Tapi buat seorang playboy gagal plus raja php yang sama sekali belum pernah pacaran___ rasanya saya tua. Tua bukan berarti sudah bepengalaman. Tua disini ya seperti apa yang kamu pikirkanlah. Well, ini faktanya. Saya jones. Entah mengapa dan karena kutukan apa, saya juga bingung. Saya udah nyoba untuk jadi joba sejati, tapi hasilnya nihil. Saya masih saja dihantui oleh bayang-bayang itu. Padahal tampang saya gak jelek-jelek amat. Setipe kayak Afganlah. Kacamataan, sawo mateng, dan update banget. Tapi ya beginilah.

Kisah percintaan saya.

Kisah cinta pertama saya itu semasa SMA. Eh, maksud saya kisah percintaan gagal saya yg pertama. Begini ceritanya.
Nama wanita beruntung itu Sesilya Anetha. Manis. Tinggi. Rambutnya panjang terurai. Sayangnya, doi cuek abis. Tapi kecuekannya itu bikin saya makin bersemangat dan penasaran sama doi. Saya berusaha ngedeketin doi. Berusaha keras. Mulai dari manggil-manggil dia sambil nyengir tampan setiap doi lewat depan kelas, bolak-balik lewat depan kelas doi setiap jam istirahat, mandangi doi di kantin, titip salam, sampe nyariin akun sosial medianya. Facebook, twitter, friendster, vain, myspace, semuanya deh. Saya bela-belain buat akun baru. Hingga duit jajan habis buat ngewarnet. Eh ternyata, doi gak anak update. Kata temennya, doi gak suka yang begitu-begituan. Sia-sia. Tapi saya gak menyerah. Saya terus ngedeketin doi, cari tau apapun tentang doi mulai dari ujung rambut sampe ujung kaki. Hingga akhirnya, satu angkatan ngeledekin saya. saya dikatain cowok psikopat sama doi. Jleb. Saya sakit hati. Pasrah. Doi tega. Mungkin doi bukanlah wanita yang tepat buat saya. Atau. Saya yang kurang tepat buat doi. Sudahlah. Takdir berkata lain. Saya galau. Galau segalau-galaunya. Tapi saya harus tegar. Ya. Kayak lagunya rossa.
Tiga bulan kemudian. Saya bangkit kembali. Segalanya telah pulih. Nama Sesilya benar-benar udah terhapus dari dinding kamar dan hati saya. Bye.

Setahun lima bulan setelah semuanya berlalu.

Saya jatuh cinta lagi. Kali ini sama adik kelas. Imut, lucu, menggemaskan. Namanya Ethana Putri. Mencoba belajar dari pengalaman sebelumnya, perlahan-lahan saya deketin. Sinyal-sinyal lampu hijau mulai terlihat. Kita sms-an setiap hari, senyum-senyuman, sapa-sapaan. Manis banget. Saya mulai percaya diri. Eta pasti ada rasa sama saya.
Di lain sisi, Maria temen sekelas saya juga lagi deket sama saya. Orangnya asik sih, enak diajak ngobrol, cantik lagi. Saya mulai laku. Kepercayaan diri saya diambang batas. Jadi gini rasanya jadi pria idaman para wanita. Diidolakan. Niat buruk saya mulai muncul. Saya pengen pacarin dua-duanya.
Tanggal baik telah dipilh. 10 November 2012. Hati saya menaruh harapan. Semoga prediket playboy membahagiakan. Tepat pukul sembilan malam saya nembak mereka via message text. Dan akhirnya. Miris. Hati saya meringis. Menangis perih. Ternyata mereka sudah ada yang punya. Saya kepedean. Nyesel punya niat buruk sebelumnya. Alih-alih mau dapat dua, satu pun tak sampai. Tragis. Saya galau kembali. Kali ini untuk waktu yang bener-bener lama. Entah sampai kapan akan pulih kembali, yang jelas saya trauma wanita dan segala hal tentang mereka. Menyedihkan.

 THE END

Kamis, 05 September 2013

Puisi waktu SMP :'D


Surga
Setiap orang menganggapmu indah
Setiap orang menganggapmu penuh dengan sukacita
Tanda Tanya besar  membayangiku
Dimanakah kau berada?
Mengapa mereka beranggapan demikian hebatnya?
Segores pun kau tak terdeskripsikan
Hati ini mungkin menyakininya
Tetapi logika ku berkata sebaliknya
Surga..
Mungkinkah kau ada?


Sepi
Hampa bak tiada cela
Segala hal terasa berubah
Tiada lagi teman menghiasi hari
Tiada lagi temen di sisi
Hidupku terasa sunyi senyap
Warna-warni berubah menjadi kelabu
Ku langkahkan kaki mengawali hari
Tiada seorang pun kini
Temanku telah pergi


Rasa Cinta
Cerahnya sang mentari
Terpancar dari wajahmu
Sejuknya angin pagi
Tersirat dari hatimu
Eloknya rupamu memikat hatiku
Kau membuat ku tersipu malu
Layaknya rerumputan riang di perbukitan
Serta lekukan gelombang di tengah derasnya ombak
Rasa ini ku anggap cinta
Begitu membara di dalam sukma jiwa
Menenangkan juga menganyutkan raga


Kenanglah Kasih

Angin berhembus lembut. Udara mengambang jauh di atas sana menambah getaran indera peraba yang mengalami penolakan alam ini. Ku pandangi sekitar. Butiran-butiran embun mulai bertetesan pada kelopak penuh warna ceria itu. Sejuk sekali. Ku langkahkan kakiku perlahan mengitari bundaran hijau. Mencoba menyatu dengannya. Ya. Tanpa ku sadari, bibir ini mulai membentuk suatu simpul yang menambah keindahan raut wajahku. Haahh. Di sini. Di tempat ini. Tersimpan banyak kenangan manis. Kenangan bersama orang terkasih yang bahkan aku tak tau keberadaannya. Sedang apa? Dimana? Apa kabarnya dia. Aku bertanya-tanya. Terkadang mungkin takdir berkata lain. Atau. Keadaan memaksamu untuk mengatakan yang lain. Kamu boleh saja membenciku atau bahkan enggan bertatap denganku. Tapi satu hal, Kasih. Aku dan kamu pernah menjadi kita. Aku dan kamu pernah menjadi satu kesatuan yang padu. Ingat? Saling mengenal dan mengasihi satu sama lain. Walau segalanya telah berakhir, walau pintu-pintu telah terkunci rapat, dan walau kemungkinan-kemungkinan itu hanyalah omong kosong belaka. Kenanglah. Kenang walau hanya sesaat di bagian-bagian kecil bunga tidurmu. Butiran mata air berjatuhan. Menderas. Semoga yang Maha Kuasa selalu menyertai langkahmu, ya. Aku selalu mendoakan kamu, membawa namamu dalam sebaris harapanku kepada-Nya. Berbahagialah. Bahagiakan dirimu bersama seseorang yang mungkin dapat mengerti kamu seutuhnya. Aku yakin segalanya telah disediakan-Nya bagimu. Karena. Kamu baik. Dan. Berhak mendapatkan yang terbaik.

Rabu, 04 September 2013

Malam Terakhir Kita

Suara angin yang mengalun indah mendominasi. Sang fajar telah berganti tugas. Cahaya merah jingga itu tiba. “heei, lihat!” seru Neca. Neca merupakan nama panggilan dari seorang sahabat kecilnya. Namanya sebenarnya ialah Vanessa Livignie Ougles. Sedikit ribet, memang. Dan susah diingat. Oleh sebab itu, sahabatnya merombak namanya yang kebarat-baratan gak jelas itu dengan Neca. Dan parahnya lagi, seluruh masyarakat yang mengenal Vanessa jadi ikut-ikutan mengganti nama yang telah mengorbankan seekor nyawa itu menjadi Neca.
“Apa?” Alex mengernyit. Ini dia. Alex, sahabat kecil yang mengubah namanya tersebut. Alex dan Neca adalah sahabat karib. Persahabatan mereka dimulai ketika mereka berumur empat tahun. Saat itu, Alex berdiam diri duduk dibawah pohon cherry dengan berlinang air mata. Neca datang menghampirinya. Ia bertanya-tanya. Kenapa? Kenapa dia menangis? Anak laki-laki yang dilihatnya itu menangis sepanjang hari tanpa tahu penyebabnya. Dengan penasaran, Neca duduk disampingnya. Memperhatikan anak itu tanpa henti. Tanpa berkedip. Hingga akhirnya anak itupun berhenti menangis. Menceritakan penyebabnya, memberitahukan namanya, dan mengubah nama Vanessa.
“Bulannya penuh.” Neca tersenyum. 
“haaa iya! Indah yaa.” Alex menatap Neca. Dengan kesal, Neca mengarahkan kepala Alex keatas. “Itu tuh!”
“Eeeh iyaiya. Ampun mbak, ampun.” Ia meringis. Kejam. Neca tertawa. Mereka menatap bulan berjam-jam lamanya. Tanpa kata, tanpa suara. Menikmati keindahnya.
“Neca.” Alex membuka pembicaraan. Neca menatapnya tersenyum.
“Aku kayaknya jadi ngelanjut ke Jepang”.
Senyum Neca perlahan memudar. Pandangannya berubah arah. “ooh gitu. Sukses ya disana.” Jawabnya dengan berat. Hatinya tak terima. Siapa lagi yang akan menemani hari-harinya? Siapa lagi yang akan menjadi pelipur laranya? Ia tak kan bertemu dengan alex lagi. Bermain besamanya, bercanda, memandangi purnama. Ia akan kehilangan sahabat.
“Aku duluan ya yang kesana, ntar kamu nyusul. Alex San mau nyiapin karpet merah dulu buat bos Neca.” hiburnya.
Neca tersenyum. “apaan sih.”
“Besok aku berangkat caa”. Neca terdiam. Mendadak sekali? Jadi ini pertemuan terakhir? Jadi bagaimana denganku? Jadi, jadi. Ahhh!! Puluhan pertanyaaan memenuhi kepala neca. Ia hanya diam. Terdiam. Tak tau mau berkata apa. Sedih. Bingung. Kecewa.
“Caa?” Alex menganyunkan tangannya tepat di depan muka neca.
“Eeh iya. Ehmm, kamu hati-hati ya disana. Jangan suka nangis dibawah pohon. Sukses!” Mengacungkan kedua jempolnya. Ia tersenyum lebar. Mencoba sebiasa mungkin.
“Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu, ca.”

Inikah Keadilan?


Helaan demi helaan terbuang sia-sia
Detik demi detik disita mati tanpa ampun
Kegelisahan tak berujung menghampiri setiap waktu
Kekelaman seolah semakin mendekat dan merasuk
Ribuan tetesan jernih hingga tetesan kental bercucuran
Keluhan-keluhan yang terpaksa ditelan habis
Jiwa ini telah lama mati ditawan kaum tak berhati
Hati ini telah lama meminta untuk didengarkan
Sekumpulan pertanyaan masih mengambang tragis
Tanpa kata, tanpa jawaban, tanpa keberanian
Jerit tangis ini bukanlah sebuah lelucon murahan
Nyala api ini hampir habis tak bersisa
Pandanglah kami walau hanya sekejap mata

Minggu, 01 September 2013

Sebaris Kerinduanku :')


kata tak mampu mendeskripsikan. Tindakan tak mampu menjelaskan. Segala hal yang ku lakukan serasa tak berarti. Hambar. Duduk dan hanyut dalam duniaku. Ku lihat pancaran merah jingga melingkar diatas sana ___sungguh mempesona. Damai sekali rasanya. Kilauan titik-titik manis itu seolah menunjukan kebahagiaannya disana. Hamparan gelap membentang luas. Tanpa sadar, sebuah senyuman membentang dibibirku. Menatap jauh keatas. Apa papa ada disana? Menatapku dengan sepasang mata coklatnya sembari tersenyum, mungkin. Aku rindu, Pa. Aku rindu papa mengganggu waktu tidurku. Aku rindu terlelap dibawah kaki-kaki mungilmu. Aku rindu mengitari kota bersamamu, Pa. Papa ingat? Setiap malam sebelum terlelap, Aku selalu menunggu kedatanganmu beserta kantongan-kantongan kecil yang papa bawakan untukku. Papa tertawa kala itu. Mengusap lembut rambutku. Kita menikmati isi kantongan itu bersama. Hanya berdua hingga akhirnya si sulung terbangun dan terpaksa kita harus berbagi. Lucu rasanya mengingat itu.
Semua memori terputar ulang __dengan jelas. Aku kesepian, Pa. Hari-hariku sepi. Hampa. Segala sesuatunya terasa berbeda sekarang. Rumit. Butiran-butiran itupun tak mampu lagi ku tahan. Meluap. Maaf, Pa. Maaf karena tak ada di detik-detik terakhirmu. Maaf mengecewakan. Maaf. Maaf buat segalanya. Bendungan itu menderas. Sayup-sayup ku panggil namanya dengan linangan, yang bahkan aku tak tau mengapa mengalir begitu saja. Aku harap Pencipta menempatkanmu di negeri putih nan indah itu, Pa. Mengajakmu berkeliling dan menikmati keindahannya. Tersenyumlah, Pa. Tersenyumlah karena kini rasa sakit yang sekian lama kau rasa telah berubah menjadi sukacita. Tersenyumlah melihat anakmu dari atas sana dengan penuh rasa bangga. Jangan cemaskan aku. Jangan cemaskan butiran-butiran yang berjatuhan ini. Tak apa. Aku tersenyum. Engkau pria hebat. Pria nomor satu dalam hidupku. Papa. Kelak saat aku punya keturunan nanti, papa akan dikenang manis. Sangat manis. Aku mencintaimu, Pa. Selalu mencintaimu.


Cukup Sudah


Seminggu setelah semuanya berlalu. Tiada lagi kata, tiada lagi cerita. Kamu seolah-olah menghilang. Tanpa tanya, tanpa kata, kamu meninggalkan semua. Sakit.
Hai kamu, ya kamu. Tidakkah kamu ingat lagi akan semuanya? semua tentang kita. Setia. Sukaduka. Selamanya. Aku menarik nafas panjang. Hanya sebuah angan kosong. Angin yang menyentuh lembut, cahaya bulan berkilauan, kesunyian yang begitu menghangatkan membawaku kepada dunia fantasiku. Dunia dimana aku menganggumi suatu sosok. Sosok yang kurindukan yang bahkan belum tentu membalaskan hal yang sama juga kepadaku. Sosok itu menghantui pikiranku. senyuman, celotehan, bahkan amarah. semua mengingatkan. Kumpulan kata yang ia rangkai begitu manis. Suara khas yang ia lantunkan penuh sentuhan kasih. Aroma semerbak mempesona hati. Hatiku meringis. Mengapa? Apakah kasihmu kepadaku telah hilang bak debu terbawa angin, telah lenyap bak dipanas api atau telah beralih menjadi benci? aku tak mengerti. Kamu begitu tega. 

Serangkaian getaran dari sakuku membuyarkan lamunanku. Sebuah pesan singkat, ternyata. Mencoba mereka-reka. Hatiku bergejolak ketika membaca isi pesan tersebut. Kamu. Setelah sekian lama tanpa kata, setelah sekian lama menghantui pikiran, setelah sekian lama menjadi bayang-bayang. Kamu datang kembali. Tanpa penyesalan. Tanpa maaf. Berlagak seolah-olah tak terjadi apa-apa. Miris. Hatiku bergetar. Pikiranku beradu. Butiran-butiran mata air itupun mulai berjatuhan. Jahat. Sekarang apa lagi? Datang dan pergi sesuka hatimu.
Berjam-jam lamanya aku menatap layar ponselku. Duduk. Diam. Terpaku. Permainan apalagi yang akan kamu buat? Jangan menghampiriku hanya untuk menggoreskan luka lagi. Aku mohon. Aku lelah dengan segala permainanmu. Aku sudah cukup tersiksa dengan semua perlakuanmu terhadapku. Aku bukanlah boneka yang siap kamu bawa dalam setiap sandiwara. Sudah tamat. Maafkan aku. Masih terasa sulit bagiku.