Hai,
malam. Pelita bundar itu kini kembali menemani. Pancarannya hebat, menembus
hingga jutaan kilometer jaraknya. Ia terlihat indah disana. Tak heran rasanya
bila semua mata mengatakan kalian paket yang sempurna. Aku takjub. Malam,
tidakkah senyummu merekah sekarang? Kebahagian itu telah datang bersamamu. Atau
mungkin, telah tinggal diam di dalammu? Pelita itu bak pemandu naluri bagimu.
Hal-hal kecil yang bahkan masih melekat dalam kepalamu, Ia tau. Pantas saja kau
betah berlama-lama dengannya. Di kegelapan, perhatiannku selalu teralih pada
kalian. Pada keharmonisan yang kalian ciptakan. Ada kedamaian yang terpancar
sesaat aku melihatnya. Ada dentuman nada manis sesaat aku merasakannya. Kau beruntung,
Malam. Langit di atas sana memang luas, tapi ketahuilah tiada pelita lain yang
dapat sama seperti pelita yang telah tercipta sempurna untukmu itu.
Bersyukurlah, Malam. Jangan pernah sia-siakan dia. Jangan lagi. Dan, kalaupun
suatu saat nanti kerikil-kerikil kecil itu datang dan menghadang langkah kalian
berdua, tetaplah bertahan dan bergandengan. Layaknya dua buah kayu yang
terlilit tulang daun. Begitulah kalian semestinya. Aku tau betul kau bukanlah
seorang yang pantang menyerah, Malam. Juga bukan seorang yang bermain-main
dengan ketulusan. Kau bahkan tak pernah peduli persepsi dunia mengenai engkau.
Kau adalah kau. Dan tak pernah berubah. Pendirianmu cukup teguh. Dan, kuharap
akan sama teguhnya dengan hatimu. Semoga kebahagiaan abadi akan selalu
meliputimu. Hapuslah dukamu dan pecahkanlah dunia ini dengan tawa renyahmu.
Bersukalah sekarang dan seterusnya. Ini malammu.