Hari ini rasanya berbeda, entah mengapa. Aku berjalan
dari sudut jalan. Menapaki setiap langkah yang ku punya dengan hati keluh.
Mentari diatas sana seolah menghukumku dengan pancarannya. Panas. Menyengat.
Inilah dia. Segala aktivitasku akan dimulai dari sini. Aku memandang sekeliling.
Tanpa ku sadari, pandanganku terhenti pada satu titik. Senyumku merekah
seketika. Segala kekesalanku seolah terbayar.
Aku terlarut. Terhanyut. Anganku melayang-layang luas bak goresan kapas
putih diatas sana. Hai kamu. Ya, kamu. Kamu adalah sosok berkharisma yang telah
merenggut perhatianku tanpa sisa. Aku mungkin tak tau banyak hal tentang kamu.
Dan, akupun tak tau bagaimana kamu yang sesungguhnya. Tapi aku yakin hati ini
tak mungkin berkata salah. Ini mungkin kedengaran gila. Tapi, ya aku
mengagumimu. Meski tanpa perkenalan yang berarti. Meski tanpa perbincangan
hangat terjalin diantara kita. Diri ini mungkin tak pernah kamu tau. Dan, rasa
ini mungkin hanya aku yang tau. Tak apa. Aku rela memendam segalanya. Tidak.
Ini bukan berarti aku setengah hati, hanya saja aku tak ingin kamu terganggu
dengan kehadiran rasa ini. Aku tak ingin menjadi sosok yang tak kau ingini
kehadirannya. Aku tak ingin kamu menuai malu. Oh ya, kamu tau? Aku selalu tak
berdaya ketika melihat simpul menawan itu dibibirmu. Senyummu bak candu di
setiap malamku. Andai kamu tau, tiada malam yang ku habiskan tanpa
memikirkanmu. Mencari tau tentangmu. Aku tak pernah mampu untuk berbincang
denganmu. Lidahku keluh seketika diperhadapkan denganmu. Aku gugup. Entahlah, aku
tak tau sebabnya. Dari kejauhan ku lihat seseorang datang kearahmu. Bercanda
tawa denganmu. Menyentuh rambutmu. Berada sedekat itu denganmu. Ah, andai aku
adalah dia. aku cemburu. Siapa dia? Hatiku bertanya-tanya. Aku mengamati wanita
itu lekat-lekat, mencoba membandingkan dirinya dengan diriku. Tak dapat ku
pungkiri, wanita yang berada disampingmu itu jauh lebih baik. Menawan, modis,
dan sepertinya dari golongan keluarga yang sederajat dengan kamu. Apa dia
kekasihmu? Hatiku hancur melihat kebersamaan itu. Pedih. Aku mulai jatuh diri.
Sudahlah, orang seperti aku ini mungkin hanya bisa berharap. Tidak lebih.
Bersama pria seperti kamu hanya ada di negeri dongeng. Aku harusnya tau. Tau
siapa aku. Butiran-butiran mata air mulai berjatuhan di pipiku. Aku tak kuasa
membendung rasa kecewa akan diriku sendiri. Rasa ini terlalu dalam. Dan, aku
tak tau mengapa bisa seperti ini. Perasaan ini lahir tanpa alasan. Aku bingung.
Kesal. Kecewa. Hatiku bergejolak. Aku menyukai seseorang yang bahkan tak tau
kehadiranku. Aku mengharapkan pengertian dari seseorang yang bahkan tak tau
siapa aku. Oh Tuhan, salahkah aku memendam segalanya?