Medan. Tak ada
pilihan lain. Kota ini satu-satunya wadah yang akan membawa kehidupannya
menjadi lebih baik. Ribuan kilometer ia tempuh demi suatu ilmu yang bahkan
belum tau akan membawanya kemana. Tak ada kata menyerah, tak ada kata pasrah.
Yang ada hanya bersiap dan bertahan. Inilah hidup yang sebenarnya. Menghadapi
segala sesuatunya sendirian. Tanpa pembimbing. Tanpa orangtua. Pria berkulit
eksotis nan rupawan itu bukanlah pria yang lemah, ya aku yakin. Lakunya mungkin
saja demikian, namun tidak dengan hatinya. Kuat. Bak baja yang siap untuk
perang. Keke. Demikian orang-orang menyapanya. Senyumnya seketika merekah di
kerumunan itu. Bercanda tawa bersama. Tak ada yang tak mengenalnya di ruangan
ini. Tentu saja. Suaranya yang khas, Sapaan hangat dan celotehan jenaka yang ia
ciptakan bak makanan sehari-hari bagi penghuni ruangan ini. Rupanya yang sayu
selalu saja mengundang kegembiraan.
Masih tertanam di
benakku segala hal tentang dia, teman baruku itu. Segala tentang mimpi dan
pencapaian yang telah ia raih. Aku salut. Obsesinya terhadap angka sebelas
telah membawanya pada suatu kemenangan. Ia adalah olahragawan muda yang
berhasil memboyong medali perak di pertandingan basket kanca internasional ___sungguh
luar biasa. Dengan bangga, ia memamerkan kenangan itu padaku. Disana terlihat
jelas raut rasa bangga. Goresan hijau yang tertera pada balutan putih tanpa
lengan di tubuhnya menjadi saksi bisu atas segalanya. Aku yakin, tidaklah mudah
untuk meraih kemenangan tersebut. Butuh perjuangan. Perjuangannya yang keras,
tentunya. Kedisiplinan. Kekompakan. Satu nilai plus semakin terlihat darinya.
Orang-orang mungkin saja menganggapnya remeh. Menertawakan. Mereka hanya belum
terlalu mengenal lebih dalam. Berasumsi seenaknya. Perkenalan singkat mungkin
tak membuat kita tau banyak hal. Tapi ketahuilah, apa yang terlihat dari luar
belum tentu mampu mendeskripsikan apa dan bagaimana seseorang itu sebenarnya.
.jpg)