justwrite

justwrite
Satu karakter mewakili satu pikiran, satu kata mewakili satu perasaan, dan satu kalimat mewakili satu hati. - Me.

Jumat, 25 Oktober 2013

Request - Tentangmu Teman Baruku

Medan. Tak ada pilihan lain. Kota ini satu-satunya wadah yang akan membawa kehidupannya menjadi lebih baik. Ribuan kilometer ia tempuh demi suatu ilmu yang bahkan belum tau akan membawanya kemana. Tak ada kata menyerah, tak ada kata pasrah. Yang ada hanya bersiap dan bertahan. Inilah hidup yang sebenarnya. Menghadapi segala sesuatunya sendirian. Tanpa pembimbing. Tanpa orangtua. Pria berkulit eksotis nan rupawan itu bukanlah pria yang lemah, ya aku yakin. Lakunya mungkin saja demikian, namun tidak dengan hatinya. Kuat. Bak baja yang siap untuk perang. Keke. Demikian orang-orang menyapanya. Senyumnya seketika merekah di kerumunan itu. Bercanda tawa bersama. Tak ada yang tak mengenalnya di ruangan ini. Tentu saja. Suaranya yang khas, Sapaan hangat dan celotehan jenaka yang ia ciptakan bak makanan sehari-hari bagi penghuni ruangan ini. Rupanya yang sayu selalu saja mengundang  kegembiraan.
Masih tertanam di benakku segala hal tentang dia, teman baruku itu. Segala tentang mimpi dan pencapaian yang telah ia raih. Aku salut. Obsesinya terhadap angka sebelas telah membawanya pada suatu kemenangan. Ia adalah olahragawan muda yang berhasil memboyong medali perak di pertandingan basket kanca internasional ___sungguh luar biasa. Dengan bangga, ia memamerkan kenangan itu padaku. Disana terlihat jelas raut rasa bangga. Goresan hijau yang tertera pada balutan putih tanpa lengan di tubuhnya menjadi saksi bisu atas segalanya. Aku yakin, tidaklah mudah untuk meraih kemenangan tersebut. Butuh perjuangan. Perjuangannya yang keras, tentunya. Kedisiplinan. Kekompakan. Satu nilai plus semakin terlihat darinya. Orang-orang mungkin saja menganggapnya remeh. Menertawakan. Mereka hanya belum terlalu mengenal lebih dalam. Berasumsi seenaknya. Perkenalan singkat mungkin tak membuat kita tau banyak hal. Tapi ketahuilah, apa yang terlihat dari luar belum tentu mampu mendeskripsikan apa dan bagaimana seseorang itu sebenarnya.

Selasa, 22 Oktober 2013

Jika Esok Tak Pernah Datang

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi. Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku. Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu. Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya, Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa. Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu. Jadi, bila kau sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang? Karena bila esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesali hari. Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka. Jadi, dekap erat orang-orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka. Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”

Jika - Puisi


Jika kau mampu menegakkan kepala, ketika orang-orang di sekitarmu kehilangan segalanya dan saling menyalahkan.
Jika kau mampu meyakini dirimu, ketika semua orang meragukanmu. Namun kau tetap mampu memahami keraguan mereka.
Jika kau bisa menunggu dan tidak lelah menunggu. Atau dibohongi, namun tidak berbohong. Dibenci, namun tidak membenci.
Namun semua itu masih tidak terlalu baik, atau tidak terlalu bijaksana.
Jika kau dapat bermimpi dan tidak ada yang memaksamu untuk bermimpi.
Jika kau dapat berpikir dan tidak ada yang memaksamu untuk berpikir.
Jika kau dapat menerima kemenangan dan bencana dan menerima keduanya dengan cara yang sama.
Jika kau mampu mendengar kebenaran yang terucap oleh bibirmu. Meski terhalang kemuslihatan yang menjerat si dungu.
Atau menyaksikan segala hal yang kita bangun, hancur. Namun memungutnya dan membangunnya kembali dengan alat usang.
Jika kau dapat memupuk kemenangan dan terus membumbung tinggi.
Lalu kalah, dan memulai segalanya dari awal dan tidak pernah mengungkit-ungkit kekalahan.
Jika kita dapat menguatkan hati, syaraf, dan otot daging untuk membuatmu bertahan atas kekalahan.
Dan tetap bertahan, meski kau tak punya satu pun lagi kecuali kehendak yang mengatakan `Bertahanlah!`
Jika kau dapat berbicara di depan orang banyak dan tetap menjaga martabat. Atau berjalan dengan Raja tanpa lupa sebagai orang biasa.
Jika tak seorang pun musuh dan teman bisa melukaimu.
Jika semua orang membantumu, namun tidak terlalu banyak.
Jika kau bisa mengisi saat yang menyakitkan dengan nilai enam puluh detik penentuan lari jarak jauh.
Milikmu adalah Bumi dan semua yang terkandung di dalamnya
Dan, lebih dari itu, kau kan menjadi seorang Manusia, anakku! (-Rudyard)

Pemenang Kehidupan - Cerita Motivasi

Suatu hari, dua orang sahabat menghampiri sebuah lapak untuk membeli buku dan majalah. Penjualnya ternyata melayani dengan buruk. Mukanya pun cemberut. Orang pertama jelas jengkel menerima layanan seperti itu. Yang mengherankan, orang kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual itu. Lantas orang pertama itu bertanya kepada sahabatnya, “Hei. Kenapa kamu bersikap sopan kepada penjual yang menyebalkan itu?”

Sahabatnya menjawab, “Lho, kenapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah sang penentu atas kehidupan kita, bukan orang lain.”

“Tapi dia melayani kita dengan buruk sekali,” bantah orang pertama. Ia masih merasa jengkel.

“Ya, itu masalah dia. Dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk, dan lainnya, toh itu enggak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan mempengaruhi hidup kita. Padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri sendiri.”

Sahabat, Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba-tiba jadi sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang itu.

Coba renungkan. Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang lain? Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu? Jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak! Pilih untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik.


“Pemenang kehidupan” adalah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas, yang tetap manis di tempat yang sangat pahit, yang tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, serta tetap tenang di tengah badai yang paling hebat.

Kisah Kasih Sang Jones

Nama saya Jecky Prasetyo. Sebut aja iki. Nama gaul gitoooh. Umur saya 19 tahun. belum tua-tua amat lah,katanya. Tapi buat seorang playboy gagal plus raja php yang sama sekali belum pernah pacaran___ rasanya saya tua. Tua bukan berarti sudah bepengalaman. Tua disini ya seperti apa yang kamu pikirkanlah. Well, ini faktanya. Saya jones. Entah mengapa dan karena kutukan apa, saya juga bingung. Saya udah nyoba untuk jadi joba sejati, tapi hasilnya nihil. Saya masih saja dihantui oleh bayang-bayang itu. Padahal tampang saya gak jelek-jelek amat. Setipe kayak Afganlah. Kacamataan, sawo mateng, dan update banget. Tapi ya beginilah.

Kisah percintaan saya.

Kisah cinta pertama saya itu semasa SMA. Eh, maksud saya kisah percintaan gagal saya yg pertama. Begini ceritanya.
Nama wanita beruntung itu Sesilya Anetha. Manis. Tinggi. Rambutnya panjang terurai. Sayangnya, doi cuek abis. Tapi kecuekannya itu bikin saya makin bersemangat dan penasaran sama doi. Saya berusaha ngedeketin doi. Berusaha keras. Mulai dari manggil-manggil dia sambil nyengir tampan setiap doi lewat depan kelas, bolak-balik lewat depan kelas doi setiap jam istirahat, mandangi doi di kantin, titip salam, sampe nyariin akun sosial medianya. Facebook, twitter, friendster, vain, myspace, semuanya deh. Saya bela-belain buat akun baru. Hingga duit jajan habis buat ngewarnet. Eh ternyata, doi gak anak update. Kata temennya, doi gak suka yang begitu-begituan. Sia-sia. Tapi saya gak menyerah. Saya terus ngedeketin doi, cari tau apapun tentang doi mulai dari ujung rambut sampe ujung kaki. Hingga akhirnya, satu angkatan ngeledekin saya. saya dikatain cowok psikopat sama doi. Jleb. Saya sakit hati. Pasrah. Doi tega. Mungkin doi bukanlah wanita yang tepat buat saya. Atau. Saya yang kurang tepat buat doi. Sudahlah. Takdir berkata lain. Saya galau. Galau segalau-galaunya. Tapi saya harus tegar. Ya. Kayak lagunya rossa.
Tiga bulan kemudian. Saya bangkit kembali. Segalanya telah pulih. Nama Sesilya benar-benar udah terhapus dari dinding kamar dan hati saya. Bye.

Setahun lima bulan setelah semuanya berlalu.

Saya jatuh cinta lagi. Kali ini sama adik kelas. Imut, lucu, menggemaskan. Namanya Ethana Putri. Mencoba belajar dari pengalaman sebelumnya, perlahan-lahan saya deketin. Sinyal-sinyal lampu hijau mulai terlihat. Kita sms-an setiap hari, senyum-senyuman, sapa-sapaan. Manis banget. Saya mulai percaya diri. Eta pasti ada rasa sama saya.
Di lain sisi, Maria temen sekelas saya juga lagi deket sama saya. Orangnya asik sih, enak diajak ngobrol, cantik lagi. Saya mulai laku. Kepercayaan diri saya diambang batas. Jadi gini rasanya jadi pria idaman para wanita. Diidolakan. Niat buruk saya mulai muncul. Saya pengen pacarin dua-duanya.
Tanggal baik telah dipilh. 10 November 2012. Hati saya menaruh harapan. Semoga prediket playboy membahagiakan. Tepat pukul sembilan malam saya nembak mereka via message text. Dan akhirnya. Miris. Hati saya meringis. Menangis perih. Ternyata mereka sudah ada yang punya. Saya kepedean. Nyesel punya niat buruk sebelumnya. Alih-alih mau dapat dua, satu pun tak sampai. Tragis. Saya galau kembali. Kali ini untuk waktu yang bener-bener lama. Entah sampai kapan akan pulih kembali, yang jelas saya trauma wanita dan segala hal tentang mereka. Menyedihkan.

 THE END